Senin, 28 Februari 2011

Ya Rabb, Aku Rindu,,

Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazamkan dirinya di jalan ini
Menjadikan dakwah sebagai laku utama
Dialah visi, dialah misi, dialah obesisi
Dialah yang menggelayuti di stiap desah nafas
Dialah yang mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridha dan magfirah Tuhannya kelak…
Tahun kedua aku menatapi langkah ini untuk menuntut ilmu di kampusnya para scientist merupakan tahun yang kurasakan sangat berkualitas. Aku di amanahkan untuk memimpin barisan pendakwah di fakultas, ya.. memimpin LDK. Tercatat sebagai ketua LDK termuda dan paling amatiran. Tapi ada perasaan semangat yang terus menggelora pada tahun itu, semangat yang sangat kurindukan, tak sempat kumerasakan lelah karena tertutupi dengan menumpuknya kegiatan.
Hal lain yang kurindukan adalah ringannnya kaki melangkah untuk agenda-agenda dakwah, hati yang bahagia, pikiran yang segar, pandangan yang terjaga, pergaulan yang sehat serta tenaga-tenaga yang terkuras terasa bermanfaat dan berkualitas. Sungguh aku sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa aku menjadi jundi dalam dakwah ini, babu dalam agenda-agenda dakwah, peserta di stiap kajian-kajian, peserta rapat-rapat rutin, penanggung jawab stiap kegiatan pelatihan, kajian dan seminar keislaman, Sungguh aku sangat merindukannya…

Minggu, 13 Februari 2011

Catatan Pengabdian Seorang Relawan

Banyak yang mengartikan kata relawan yaitu rela tidak melawan, rela waktu dan tenaganya terkuras, pikiran terpecah dan bahkan mengikhlaskan sebagian dari hartnya untuk digunakan dalam kegiatan social. Dengan prinsip mengabdi sebagai tanggung jawab social kepada masyarakat seorang relawan yang ideal menyatu dengan masyarakat, merasakan apa yang selama ini menjadi kegelisahan, memecahkan permasalahan kemasyarakatan, menyuntikkan vitamin kehidupan bertenggang rasa serta menyalurkan ide-ide brillian guna mendorong kehidupan yang produktif dan berkualitas.
Sebagai Agent of change sudah sepatutnya sebagai mahasiswa memikirkan dan mencurahkan sebagian tenaganya untuk masyarakat di area yang tidak terjamah oleh derasnya arus pembangunan dan kemajuan dalam berbagai bidang. Hal ini mungkin bisa disebabkan oleh nepotismenya kekuasaan, piciknya kemajuan teknologi, kemunafikan pemerataan pendidikan dan yang paling besar adalah keserakahan kepemimpinan. Semoga penulis dan pembaca dijauhkan dari kerasnya hati yang membuat kita tidak peka terhadap penderitaan yang meraung-raung dan merindukan iba para pemimpin dan juga semoga kita selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan karena sungguh siapapun anda, apapun profesi anda, ada nikmat Allah yang melekat yang tak mampu kita balas walaupun dengan ibadah beribu tahun lamanya.
Bakti social yang diadakan di desa Burlah kecamatan Ketol kabupaten Aceh tengah cukup menyisakan banyak catatan penting yang menjadi hikmah dan introspeksi kita bersama. Kami para relawan mengabdi selama 10 hari di desa tersebut, membaur dengan masyarakat yang hampir tidak memiliki target kehidupan di masa yang akan datang, hanya memikirkan isi perut hari ini, menjalani hari esok seperti hari-hari biasa, tanpa ada gebrakan dan usaha untuk keluar dari system.
Burlah memiliki arti “tengah-tengah”, yang maknanya desa yang diapit oleh bukit atau berada di antara 2 desa yang lainnya. Kebanyakan masyarakat di desa ini berprofesi petani, karena memang demografi desa burlah dipenuhi dengan bukit-bukit sehingga bagus untuk bercocok tanam. Pada pagi hari para kepala keluarga bahkan seluruh anggota keluarga bergegas menuju kebun untuk merawat dan memetik hasil perkebunan, jika sore telah menjelang mereka baru kembali ke kediaman masing-masing, bahkan ada salah seorang masyarakat yang kami temui sudah satu minggu berada di kebun yang jauh dari rumahnya. Biasanya pada hari jumat kebanyakan masyarakat tidak berkebun, mereka biasanya membersihkan rumah, memperhatikan keluarga, pengajian serta beribadah bersama-sama di mesjid. Jika malam telah menjelang, suasana desa ini begitu sepi dan sunyi, memang ada beberapa rumah yang memiliki televisi namun pada jam 10 keatas rata-rata masyarakat sudah terlelap, sangat jarang adanya kehidupan malam atau ada yang begadang, mereka betul-betul memanfaatkan gelapnya malam untuk beristirahat.

Jumat, 11 Februari 2011

Mencari Semangat yang redup


Desa Burlah, kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, 01 Februari 2011. Sekitar jam 16.15 rombongan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempur) Aceh Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Syiah Kuala yang berjumlah 45 orang tiba dengan sehat wal afiat. Rombongan kami yang diangkut dengan 5 mobil minibus disambut dengan senyuman dan keramahan warga desa Burlah. Masyarakat menyambut kami seakan-akan seperti menyambut saudara yang sudah lama tak berjumpa, terutama yang ibu-ibu seakan menyatu dan langsung akrab dengan masyarakat.
Aku salah satu relawan Gempur dan juga diamanahkan untuk mengkomandoi kawan-kawan relawan lainnya mencoba untuk menyapa dan membaur dengan masyarakat yang akan menjadi perhatian, sasaran bahkan teman untuk 10 hari kedepan. Walaupun dalam perjalanan keberangkatan dari kampus menuju desa sasaran dilalui dengan banyak rintangan dan permasalahan. Mulai dari pengaturan logistic dan transportasi relawan sebelum keberangkatan sampai dengan ulah sopir yang mengesalkan.
Saat kuinjakkan langkah pertama di desa Burlah, masih kusimpan energy dan semangat untuk mengabdi, setelah menurunkan smua barang dan logistic ke rumah kost kami (sebutan untuk rumah relawan), karena rumah kost laki-laki terpisah dengan perempuan maka aku bersama 4 mobil minibus lainnya ditemani warga beranjak ke atas bukit untuk mengantarkan relawan perempuan ke rumah kostnya di salah satu rumah warga. Setelah smuanya selesai aku pun kembali ke rumah kost yang menjadi istana selama 10 hari kedepan.
Langit mendung yang memberi sinyal akan turunnya hujan lebat menemani sore itu, ku lihat rumah kostku yang gelap tanpa sinaran lampu karena pada saat itu listrik sedang padam, dapur yang luas berlantaikan tanah, 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu serta bak mandi besar di samping rumah itulah rumah kost kami yang dihuni oleh 25 orang relawan. Pada saat itulah aku kehilangan ide serta pikiran terasa buntu. Barang logistic yang berserakan ditambah dengan tidak adanya sinyal di handphone ku serta hari yang semakin gelap menambah kebuntuan. Ku dengar desus suara kawanku berbicara tentang banyak pertanyaan yang ditujukan kepadaku, tak satupun dapat ku jawab.

Sagralmu wen, kelas hide??

Itulah kosakata yang dihafal oleh kawanku pada hari pertama kami terjun kelapangan melihat medan baksos. Desa Burlah memang dihuni oleh penduduk yang kebanyakan dari suku Gayo. Mereka berinteraksi dan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Gayo, memang ada beberapa kosakata yang sama dengan bahasa Aceh, namun kebanyakannya berbeda, sehingga kami berkesempatan untuk mempelajari uniknya bahasa gayo. Akupun bersemangat untuk mengingat dan mempelajarinya, siapa tahu nanti bisa jadi orang gayo.. hehe..

Ada cerita lucu dibalik sejarah kenapa kami sangat mengingat kosakata “sagralmu wen, kelas hide”. Pada hari pertama kami baksos, kawanku bersama relawan dari divisi pendidikan melakukan survey ke sekolah dasar yang tak jauh dari rumah kost. Pada saat itulah kisah jenaka ini terjadi. Sesampainya disekolah, kawanku menyalami smua murid-murid SD yang sedang berbaris, satu persatu sambil menanyakan “Sagralmu wen, kelas Hide??...Sagralmu wen, kelas Hide??... Sagralmu wen, kelas Hide??.........”, Dengan gayanya yang mirip bung karno, ia terus menanyakannya sampai smua murid tersalami, aku tak yakin apakah ia akan mengingat smua nama murid dan kelas berapa ia berada tapi kawanku terus menanyakan pertanyaan yang sama.

Pada hari itu aku bersama relawan lainnya tertawa terbahak-bahak mendengar kisah ini dan kami saling bercanda dengan saling bertanya “Sagralmu wen, kelas Hide??....” pada malamnya sebelum tidur pun aku tertawa kecil mengingat kisah ini, dan kawanku pun keheranan kenapa aku tertawa sendiri disaat yang lainnya sudah terlelap, bahkan sampai sekarang pun aku masih tersenyum jika mengingat kisah ini.

Setelah 10 hari mengabdi di Burlah, hanya empat kosakata yang diingat oleh kebanyakan kawan-kawan relawan selain dua diatas yaitu “malai kusi” dan “gerebete”. Memang Desa Burlah meninggalkan banyak kisah yang jenaka yang mengharu biru, untuk kisah yang lainnya dapat dilihat di artikel bagus lainnya di blog ini, semoga menghibur…

Sabtu, 27 November 2010

Internship in Academia Sinica Taiwan, “Engaged with Global Community”


July 25th is my First time to see the sunrise in Formosa (Taiwan) land. I was in Taiwan for internship, starts from July to September 2010 in Research Center for Information Technology Innovation Academia Sinica Taiwan. This program is a part of cooperation between Academia Sinica and Mathematics Department, Syiah Kuala University. Every year start from 2009, 2 students will send to Taiwan to learn open source.
My first in the internship was memorable. In early morning I walked from my apartment to my office. Step foot on that morning much faster and enjoyable. I felt different on that morning, the spirit and my body condition is better than before. I walked like a teenager in Taiwan that runs with an upbeat style while listening to music with headset from my mobile phone. Indeed, the atmosphere that morning was not so oppressive because the streets wet with rain that came down, but the sweat still poured. Walked from my apartment to my office make me become more healthy and fit. I had to hurry, because I should get to the office on time. The day that I arrived in Taipei, Mr. Marr (my advisor in Taiwan) gave map to me, the map that show the direction where is my office.
Apparently here every vehicle running on the right, so I feel a little weird but fun.
After walking for 25 minutes, I arrived at the Information Science Institute building. The map showed the building is the place where I would intern. When the main doors opened automatically I asked the officer at the front desk what floor is for intern students.
That day I met lots of Taiwanese friends, because many researchers at the building said hello and we exchanged business cards. Tim is my mentor. He guided me during the internship. My first task is to learn about Media Wiki. They gave me a week's time to learn about Media Wiki, ranging from installation and modification. But in the afternoon I completed all of my tasks and Tim was very surprised and he confused what should I do next.
Internship in Taiwan is impressive. I had to adapt to new neighborhood. Actually the adaptation process was quite impressive. Tried to get used to with new habit and get used to new neighborhood where not all could run smoothly as I think and unexpected incident sometimes happen. I looked for the answer to make the condition remains stable. It wasn’t easy to get through all this, but I feel the power that was always pushed and watched me one of them is the power of prayer from my parents.

Minggu, 10 Oktober 2010

Membidik Universitas di Taiwan


Pada sabtu 09 Oktober 2010 kemarin digelar pameran perguruan tinggi di Taiwan. Bertempat di Academic Activity Center Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala Aceh, Indonesia. Rombongan yang terdiri dari sekitar 88 orang ini berasal dari 38 universitas top di Taiwan. Mereka datang ke Aceh untuk mempromosikan universitas di Taiwan kepada rakyat Aceh. Tak luput juga ikut dalam rombongan Menteri Pendidikan Taiwan dan juga dari Elite Study In Taiwan (ESIT).
Acara yang dibuka langsung oleh Sekretaris Pemerintah Aceh ini dikunjungi oleh masyarakat Aceh yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dosen dan masyarakat umum. Pameran yang diadakan hanya satu hari ini dikunjungi oleh ribuan rakyat aceh. Rakyat Aceh sangat antusias mengikuti pameran ini. Pengamatan dari penulis hingga pukul dua siang hampir seluruh brosur yang ada di stan-stan universitas habis diboyong oleh pengunjung. Kebanyakan dari pengunjung menanyakan tentang program yang ditawarkan di setiap universitas serta beasiswa yang disediakan oleh universitas atau pemerintah. Bahkan ada seorang bapak yang datang ke salah satu stan universitas berkata “saya menanyakan informasi ini bukan untuk saya, tapi untuk anak saya yang tidak bisa datang kesini”.
Kebanyakan dari pengunjung yang merupakan akademisi seperti dosen ataupun mahasiswa rata-rata sudah membidik satu universitas di Taiwan sebagai tempat untuk melanjutkan studinya, mereka memilih berdasarkan keunggulan universitas di bidang yang digeluti ataupun berdasarkan beasiswa yang di tawarkan ada juga yang memilih berdasarkan jumlah mahasiswa Indonesia yang ada di universitas tersebut. Namun, ada yang kurang dari kehadiran universitas-universitas dari Taiwan yaitu ketidak hadrian National Taiwan University Science and Technology (NTUST). Memang sebagian dari mahasiswa Aceh sudah membidik universitas ini sebagai tempat melanjutkan S2 atau S3 dan mereka menanyakan ketidak hadiran NTUST dalam pameran kali ini, mungkin di NTUST sudah terlalu banyak mahasiswa Indonesianya bahkan Aceh sehingga rakyat Aceh dapat memilih universitas lainnya yang tak kalah bagusnya.

Taiwan Higher Education Fair 2010


On Saturday 09 September 2010 The Taiwan Higher Education Fair 2010 was held. Located at the Academic Activity Center, Dayan Dawood Syiah Kuala University in Aceh, Indonesia. About 88 Taiwanese representatives from 38 top universities in Taiwan include The Ministry of education of Taiwan and also from the Elite Study in Taiwan (ESIT) came to Aceh to promote the university in Taiwan to the Aceh people.
The event was opened by the Secretary of the Government of Aceh. The exhibition visited by people of Aceh consisting of students, university students, lecturers and the civil society. The exhibition was held just one day and visited by thousands of people of Aceh. The visitors were enthusiastic to visit the exhibition. Until two o'clock almost the entire brochures in the university stands run out, the visitors brought it as much as they could. Most of the visitors asked about the programs offered at each university and also about scholarships provided by universities or local government. There was a father who came to one of the university stand and said "I am asking this information is not for me but for my child who could not come here."
Most of the visitors that came from university in Aceh such as lecturers or students, they already had a target which one of the university in Taiwan will be the place to continue their studies, they choose based on the field that they are focus on or based on the scholarship that offered by the university or based on the number of Indonesian students that studying in the university. However, all of the universities attract the visitors, seems like the visitors want to study in every university in Taiwan.