Kamis, 26 Agustus 2010

Geram Sangat

Seperti biasa ketika sore sudah menjelang, ketika jam dinding di kantorku menunjukkan jam 5 kami langsung bergegas mengejar shuttle bus menuju NTU dan dilanjutkan jalan kaki di mesjid. Setelah turun dari bus tiba-tiba seorang pemuda rapi menggunakan masker menegurku:

….. : “you can speak chinese ?”

Me : “no, I can't”

….. :“so you only speak english”

Me : “yes”

…. : “I just wanna explain about bible..”

Me : “I'm sory...?”

…. : “I just wanna tell you about bible..”

Me : “about whaaat..?”

…. : “bible..”

…. : “.... no, Sorry, I'm Moslem”

Dasar misionaris, puasa-puasa ada aja kejadian aneh yang terjadi. Dalam hatiku setelah berlalu dari misionaris tersebut bergumam, dalam Islam aja masih banyak yang harus dipelajari dan di hafal, mana sempat belajar yang gituan.

Memang di Taiwan sedang gencar-gencarnya kristenisasi dan yang menariknya adalah misionarisnya pemuda tampan berpakaian rapi, dengan setelan jas bak kerja di kantoran. So don't judge the book by the cover..!

Senin, 23 Agustus 2010

KDEI

Pada tanggal 20 agustus kemarin merupakan hari jumat, hari dimana kebahagaian ini semakin bertambah karena kami sadar bahwa akan banyak dilalui dalam 2 hari kedepan, dan weekend pun dimulai. Sebelumnya kami telah menerima undangan untuk berbuka puasa bersama di KDEI (Kamar Dagang Ekonomi Indonesia), fungsinya sama seperti kedutaan, mungkin karena negara ini blum merdeka makanya namanya seperti di atas. KDEI sangat terkenal bagi orang indo yang sedang berada di Taiwan, karena hanya di tempat itulah satu-satunya yang mengurus segala administrasi keperluan di taiwan, terutama bagi pekerja yang ada disini, mulai dari ngurus paspor, KTP hingga sampai curhat dan minta duit, yaa.. hidup di negeri orang, banyak macam kisahnya.

Setelah shalat jumat, dari mesjid aku langsung nebeng di sepedanya mas Feri, mahasiswa UGM yang lagi ambel master di National Taiwan University Science and Technology (NTUST), menuju dormnya NTUST. Perjalanan begitu syahdu bak 2 insan yang sedang berbulan madu (hahaha.. akal2 aja ni kata2). Pokoknya kita banyak cerita selama perjalanan, karena dari mesjid menuju NTUST melewati kampusnya NTU, makan waktu sekitar 20 menit. duh sayang juga bang Feri yang sanggup mengayuh sepedanya sambel memboncengi diriku yang berat badannya 2 kali berat badan beliau, “udah bang, biar tfik aja yang bawa sepedanya, apalagi ni puasa, capek bang..” selaku di tengah perjalanan “ gak papa, lebih capek lagi taufiq bawa sepeda, kan ga tau jalan, hehe..” betul juga tu..

Setelah sampai di asrama bang Feri, kami langsung istirahat di 222. di dalam kamar tersebut dihuni oleh 5 mahasiswa Indo, ada pak tri, bang fadlil, serta mahasiswa-mahasiswa harapan bangsa kedepan. Sambil istirahat kami melanjutkan diskusi bersama bang Feri, mulai dah diskusi masa depan antara dua mahasiswa kritis indonesia, mulai dari sejarah pribadi, permasalahan masyarakat, kebiasaan buruk pemerintah dan masa depan kita-kita di kampus di bahas tuntas. Wah, melebar kemana-mana tu diskusi. Tapi aku semakin sadar, bahwa banyak yang harus diperbaiki termasuk diri sendiri.

Sore menjelang, jam sudah menunjukkan jam 4, aku bertanya ke bang fadlil, “udah masih shalat ashar bang ?”, “udah, yok kita shalat”, jawab bang fadlil. Lantas aku bangun dan keluar, “dimana mushalla nya bang?”, sambil tersenyum bang fadlil menjawab “disini mushallanya”. Rupanya kamar 222 ini adalah mushalla, karena cuma kamar ini yang di huni oleh semua mahasiswa indo dan islam semuanya.

Setelah shalat ashar, kami menuju ke depan asrama, sudah menunggu mahasiswa lain termasuk bu husni dan kawanku. Kami menuju KDEI menggunakan MRT, kendaraan andalanya penduduk taiwan. Di KDEI rupanya telah menunggu banyak kawan-kawan indo lainnya, rata-rata pekerja semua. Setelah acara seremonial berakhir bertepatan dengan waktu berbuka, kami langsung menyantap makanan berbuka yang tentunya khas indonesia, ada risol, teh (manis), kurma dan kue lainnya. Setelah magrib, mulailah makan besar. Rupanya menunya tak terduga, ada sate berserta kecapnya yang khas, ayam goreng, mie goreng, rendang, soto, gado-gado, dan makanan penutupnya ada es buah. Full tank dah malam ni.

Sambil menunggu shalat isya, aku berkenalan dengan seorang bapak asal ternate tapi tinggal di bogor. Pak azis rupanya seorang ABK kapal kargo. Alhamdulillah ramadhan kali ini kami tidak melaut, biasanya ramadhan tahun-tahun kemarin kami di laut, makin besar tantanganya kalau puasa di laut, gerah, panas dan semua awak kapal bukan muslim, tapi saya tetap berpuasa, pungkas pak azis. “pak, negara-negara mana aja yang udah di kunjungi ?” saya mulai melaut dari tahun 1994, pertama kali taiwan, korea, jepang, belanda, amerika, inggris dan banyak negara lainnya. Dalam hatiku bergumam, wah, rupanya ada cara lain untuk bekeliling dunia bukan hanya seperti yang diceritakan dalam “sang pemimpi”. “disetiap negara ada orang indonya pak ?”, ada, terutama mahasiswanya. Paling banyak di belanda, tambah pak azis mengahiri diskusi kami malam itu.

Setelah melaksanakan shalat isya dan tarawih, jam pun menunjukkan pukul 9 malam, kami rombongan mahasiswa pun pamitan. Sebelum pamitan, rupanya aku dikejutkan dengan hadiah makanan untuk sahur, ada esbuah, soto dan rendang. Wah.. mantap euy. Alhamdulillah malam itu ditutup dengan senyum berkah.

Selasa, 17 Agustus 2010

Mari Explore Taiwan..!!

Akhir pekan dalam minggu pertama ramdhan seperti biasa, cukup mengesankan, melelahkan serta penuh tantangan, tentunya dibarengi dengan kaki pegal-pegal, ya.. walaupun disini transportasinya sudah memadai tetap saja kaki ini menjadi andalan untuk mencari info tentang transportasi ataupun tempat yang akan kami kunjungi ataupun ketika kami bertanya kepada orang sekitar ketika tersesat, hehehe..

Pada pagi jumat, setelah pamitan pada Mr. Marr kami langsung bergegas menuju freebus yang ada di kantorku menuju National Taiwan University (NTU) dan selanjutnya naek bus lagi menuju Mesjid. Setelah shalat jumat selesai, kami bertemu bang Deni dan Bang ikram mahasiswa aceh yang ambel S3 dan S2 di Hsinchu memang kami sudah janjian untuk ketemu di mesjid karena kami ingin liburan ke Hsinchu, tempat dosen dan kawanku. Sebelum berangkat, kami mampir dulu ke Nova, pusat perbelanjaan elektronik dekat main statiun, barangnya banyak, bagus-bagus dan pastinya miring harganya. Salah satu elektronik yang menjadi incaran mahasiswa aceh adalah HTC, smartphone buatan taiwan. Bang deni aja udah beli seri terbarunya, dalam hatiku bergumam “segera setelah gajiku cair, akan aku bawa pulang ni smartphone” Amiin ya Rabb..

Setelah membayar 105 NT atau sekitar Rp. 32.000 kami melanjutkan perjalanan ke Hsinchu, busnya cukup mewah untuk ukuran 1 jam perjalanan, aku saja sampai tertidur nyenyak. Setelah turun di persimpangan jalan, kami melanjutkan dengan berjalan kaki menuju apartemen dosenku di Hsinchu, lumayan olahraga sebelum buka puasa. Setelah sampai di apartemen dosenku bersamaan dengan waktu buka puasa, langsung kami menyantap makanan berbuka yang sudah di sediakan, selain makanannya yang kami rindukan juga suasana keakrabannya menjadi warna baru. Mungkin pembaca sekalian bisa melihat bagaimana hangatnya suasana waktu itu di FB ku.

Setelah shalat isya, dosenku mengajak kami untuk masak mie aceh ala Taiwan. Segera kami berbagi tugas untuk cang bawang, rebus mie, beli air (gada hub ya..?) dan berbagai macam kegiatan mendukung lainnya. Akhirnya santapan malam itu kami tutup dengan Mie Aceh ala Taiwan buatan bersama, “sang Mie Razali kajeut buka cabang di Taiwan” ..

Paginya explore Taiwan pun dimulai, dengan menggunakan bus mewah kami berangkat ke Taichung, memakan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Setelah bingung mencari bus selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata “Sun Moon Lake” yang memakan waktu sekitar 2 jam juga. Kalau bisa diilustrasikan di aceh, pada hari itu kami melakukan perjalanan dari Banda ke Takengon dengan bus mewah.

Sun Moon Lake memang tempat yang indah, pertama kami meggunakan boat untuk menyembrangi danau, kemudian dilanjutkan dengan naik gondola (flying Box) menuju puncak gunung dan kembali lagi dengan flying box, karena suasanya hujan kami harus berteduh sebentar. Setelah menunggu bus sekitar 1 jam (melelahkan memang, ditambah suasana rintik-rintik)kami kembali ke tempat perberhentian semula untuk kembali pulang ke Taichung. Dilanjutkan dengan belanja sovenir dan belanja untuk bukaan, karena jam sudah menunjukkan jam 6 sore.

Akhirnya iftar pada hari itu kami laksanakan di dalam bus menuju Taichung, memang beberapa penumpang ada yang heran, ketika kami naik ke dalam bus tidak ada yang makan, tapi ketika sudah jam 6.32 kami semua minum dan makan, bunyi kantong plastik serentak terdengar. Itulah pengalaman pertamaku berbuka puasa di dalam bus di kampung orang.

Sampainya di Taichung sekitar jam 8 Bu Lidar menginstruksikan kami untuk mencari restoran indo untuk makan malam, segera bang Ali dan Mulqan kawanku membimbing kami ke pusat resto indonesia, memang luar biasa, ada resto padang, ada bakso dan ada market indo juga di sekitar daerah tersebut. “jeh, kok kalian tau tempat ini?” tanyaku kepada kawanku “iyalah, kami kan udah dapat KTP Taiwan, jadi tau seluk beluk Taiwan” hahaha.. ya sudahlah, pokoknya malam itu kami makan besar di resto Indonesia.

Dari taichung kami harus kembali naik bus menuju hsinchu tempat apartemen dosenku, setelah sempat kebingungan mencari bus di malam hari dan dosenku sempat bertanya ke bang Ali “katanya udah dapat KTP Taiwan,kok nyari bus lama”, setelah sama-sama mencari dimana bus berada kami akhirnnya menuju bus statiun, pilihan yang tepat.

Karena bus pertama jam 9 sudah penuh hanya muat untuk keluarga dosenku maka aku bang ali dan mulqan harus naik bus yang jam 10, nunggu bentar di bus statiun sambil cerita-cerita pengalaman di Taiwan. Akhirnya kami sampai di apartemen dosenku jam 12 malam. Setelah merendam kaki di air panas agar besok bisa melanjutkan explore Taiwan, rencananya kami ga tidur, karena sahur jam 3, jadi kami nonton bola bareng di ruang keluarga. Setelah 15 menit nonton semuanya pun terlelap. Hehehe..

hari minggu kembali mengeksplore taiwan ke daerah Taipei, sekalian mengantarku pulang. Kami berangkat agak siang karena istirahat dulu biar bisa jalan-jalan, makan-makan bersama Tong Piyen, sebutan gengnya Aceh di Taiwan. Hehehe

Setelah berjumpa bu husni di MRT statiun kami dituntun ke tokonya handycraft. berbagai macam kerajinan taiwan mulai dari pernak-pernik, lukisan dan baju ada, semuanya belanja pada hari itu, sampai di kasir aku iseng bertanya dalam bahasa inggris “karena kami belanja banyak, dapat diskon harga ga? Atau bonus?” si kasir menjawab, kalau harga ga bisa diskon, tapi saya bisa kasih hadiah kecil. Senang rasanya..

karena sore sudah menjelang kami bergegas menuju Mesjid besar, biasa mahasiswa hobinya cari yang gratis apalagi di negeri orang, sekalian shalat bareng plus silaturrahim. Setelah magrib dan makan di mesjid kami melanjutkan perjalanan ke Main Statiun, karena kawanku ingin belanja lagi dan sekalian kembali ke hsinchu.

Setelah naik bus di halte sekitar mesjid, ada perasaan yang kurang yang aku rasakan. Rupanya tas belanjaanku tertinggal di halte, Ya Allah.. segera kupencet bel bus, dan aku berpesan ke kawanku “kita jumpa di underground mall di main statiun ya”. Segera kaki ini melangkah untuk kembali ke halte dekat mesjid dan Alhamdulillah tasnya masih ada, memang orang Taiwan jujur-jujur..

setelah sampai di main statiun, aku berjalan sekitar 2 kilo untuk mencari dimana kawanku berada, memang undergroundnya luas kali, sempat aku sms kawanku “ya udah, aku balek aja” tiba-tiba dalam perjalanan kami berjumpa di Y, rupanya underground mall nya dari A-Z dan setiap hurufnya ada anak2nya lagi misalnya Y aja ada sampai Y20 banyangkan seberapa besarnya..!!

setelah belanja seperlunya kami langsung pisah, kawanku menuju bus statiun untuk ke hsinchu dan aku ke MRT statiun untuk ke Nangang. Memang weekend yang melelahkan dan menghabisakan banyak tenaga plus biaya. Pengalamanya pun tak terduga, kalau ada tes kewarganegaraan taiwan, mungkin aku lulus dan mendapatkan KTP Taiwan setelah menjalani weekend yang mengesankan ini...

Kamis, 12 Agustus 2010

Nikmatnya Ramadhan di Kampung Orang.

Akhirnya datang juga, pengalaman yang aku tunggu untuk dijalani dengan suasana dan tempat yang berbeda, Ramadhan di kampung orang. Memang banyak dari mahasiswa kebanyakan yang ada disini ketika ramadhan datang mereka pulang ke kampung halamannya masing-masing atau ada yang sangat berharap dapat izin dari profesornya untuk bisa minimal lebaran di kampung halaman. Ada cerita abang letingku karena sangat disayang profnya jadi dia boleh pulang pada ramadhan minggu ketiga dan segera kembali setelah lebaran, ada yang bilang hal tersebut merupakan kesedihan bagaimana menurut anda..?

Ramadhan pertamaku di warnai dengan kejadian yang kuharap tak pernah terjadi, yaitu salah naik bus. Pada siang hari, ada sesuatu yang ketinggalan di kamarku, sehingga aku harus kembali dari kantor ke asramaku, untuk menghemat waktu dan tenaga pada saat istirahat makan siang aku langsung bergegas ke halte bus dan menunggu bus yang jurusannya ke asramaku. Akhirnya datang juga bus yang aku harapkan, segera kulangkahkan kaki ini ketika pintu bus di buka. Setelah berjalan sekitar 5 menit, rupanya bus tersebut berbelok ke arah lain, bukan ke arah asramaku dan aku terkejut serta langsung melihat kembali nomor bus tersebut, rupanya aku salah naik bus. Langsung ku pencet bel dan pak supirpun langsung memberhentikan busnya di halte berikutnya. Sambil tersenyum aku keluar dari bus. Sungguh pengalaman yang seharusnya tak terjadi, terima kasih kepada pak supir yang dengan gaya yang elegan tidak memberitahukanku bahwa aku salah jurusan. Akhirnya aku pulang ke asramaku dengan jalan kaki, karena takut salah naik bus lagi..

Di bulan ramadhan biasanya seluruh mahasiswa asing dan muslim yang ada di Taipei berbuka puasa di mesjid besar, selain untuk silaturrahim dengan sesama muslim juga karena ada bukaan gratis yang disediakan oleh pengurus mesjid. Info ini aku dapatkan dari mahasiswa Indo yang ramadhannya sudah beberapa kali di Taipei. Oleh karena itu kami minta izin untuk pulang lebih awal kepada mr. marr dan Lucien, big bos dikantorku.

Setelah menghabiskan satu jam perjalanan akhirnya kami tiba di Mesjid besar Taipei. Meja telah tersusun rapi beserta mangkuk ala china plus sumpit di sampingnya, disetiap meja ada 11 mangkuk yang berartikan ada 11 orang yang akan duduk di setiap mejanya. Ada kawanku yang berpesan, kalau mau buka di mesjid besar, segera duduk dan mengambil mangkuk yang ada di meja, itu menandakan bahwa kita telah mendapatkan karcis untuk buka puasa gratis.

Memang ada beberapa peraturan untuk buka puasa disini, yaitu tidak berisik ketika berbuka, tidak makan makanan yang kita sukai saja dan meninggalkan yang tidak kita sukai, menjaga sampah hasil makanan kita, dan peraturan-peraturan yang lazim lainnya seperti berdoa dahulu sebelum berbuka.

Setelah azan dikumandangkan langsung kami menyantap menu berbuka, mau tau menunya? Ada teh pahit, bubur, delima dan kurma, dalam hatiku bergumam, segini mana cukup untuk berbuka? Perlu tambahan extra large untuk memenuhi kebutuhan makananku.

Rupanya hidangan tadi hanya hidangan pembuka, setelah shalat magrib selesai kami kembali duduk di tempat mangkuk masing-masing, rupanya di atas meja sudah ada hidangan bihun, nasi, dan sayur-sayuran yang ditumis, dalam hatiku kembali bergumam, duh, tak apalah yang penting ada makan nasi walau ikanya sayur-sayuran, jadi vegetarian skali-skali. Hehehe

lalu kejutan itupun datang, daging rendang dan sop ayam pun dihidangakan di atas meja. Semua orang yang ada di mejaku pun antri untuk mengambilnya. Tak bertahan lama rendang pun tak tersisa, aku berpikir hari ini cukup sekian makananku. Rupanya datang lagi bala bantuan daging rendang yang dihidangkan di mejaku, tak berpikir lama tambah lagi eeuuy..memang makan besar hari ini. Setelah proses pembantaian selesai, dilanjutkan dengan isya dan tarawih bersama. Alhamdulillah, nikmatnya ramadhan di kampung orang...

Selasa, 10 Agustus 2010

Puas Menjadi Mahasiswa

Buat pembaca setia, mohon maaf atas ketidak terbitan tulisan selama seminggu belakangan ini, hal tersebut lebih dikarenakan proses adaptasi yang masih berjalan dan juga memang minggu pertama kemarin adalah minggu yang sangat padat, hampir tak ada waktu senggang. Nah, minggu kemarin juga padat karena saatnya balas dendam, kami banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan makan-makan sehingga kaki ini pegal-pegal, hehehe..
Proses adaptasi memang aku akui memakan waktu yang cukup mengesankan, dimana semuanya tak bisa berjalan lancar seperti adanya dan keadaan tak terduga selalu saja datang. Proses mencari solusi saat rindu ini datang, kekosongan hati dan dropnya iman harus aku cari jawabannya agar kondisi diri ini tetap stabil. Tak mudah memang untuk melewati semua ini, tapi aku merasakan adanya kekuatan yang selalu mendorong dan mengintaiku salah satunya kekuatan doa dari orang tuaku.
Weekend kali ini memang sangat mengesankan dan penuh kejutan, tak terasa bahagianya menjadi mahasiswa dan pernah merasakan nikmat dunia ini. Pada hari sabtu kami berkumpul di mesjid kecil untuk mengadakan syukuran menyambut ramadhan. Kalau kita di Aceh mungkin meugang. Tapi karena paling rame disini mahasiswa dan pekerja dari pulau jawa, adatnya pun mengikuti pulau ibukota Negara kita, yaitu potong tumpeng. Tapi mantapnya tu, setelahnya kami smua kebagian nasi lemak plus ayam dan telornya, hehehe budaya mahasiswa terjadi lagi, dapat nasi gratis, Alhamdulillah.. Malamnya kami diajak belanja di night market, memang aku tak membeli apa-apa karena disini paling banyak toko perlengkapan wanita, mulai baju, sepatu, sandal, dan segalanya tentang wanita. Kalau toko laki-laki sangat jarang, jadinya kebahagian ini lebih banyak dirasakan kawanku yang memang hobinya belanja dan kalau belanja, pegel kaki ini nunggunya, mulai dari milih-milih, nawar-nawar, bisa-bisa pingsan kita nunggunya. Tapi aku lebih suka beli makanan, roti, ice kream dan berbagai macam air, the pahit serta air mineral. Semuanya aku habiskan sambil nunggu kawanku yang belanja. Wah, bisa ga turun-turun ni berat badan. Hehehe..
Hari minggunya kami mengunjungi kebun binatang Taipei, memang kebun binatangnya tak begitu mengesankan tapi ada hal yang menakjubkan di luar kebun binatang. Aku tak tau persis apa nama bahasa Indonesianya, kalau disini namanya Gondola. Semacam box yang berjalan di udara yang ditarik dengan tali menuju puncak gunung. Seperti flying box lah. Mungkin di dufan ada. Serunya kami hanya membayar 50 NT (Rp. 15.000) untuk sekali naik ke puncak gunung tertinggi yang memakan waktu 30 menit, dalam perjalanan nampak begitu indahnya hutan Taipei dan kotanya, 101 juga nampak. Subhanallah...baru terasa nikmatnya menjadi mahasiswa. Tak terhitung berapa kali tangan ini memencet tombol kamera untuk mengambil gambar pemandangan Taipei dari udara.

Jumat, 30 Juli 2010

Catatan Aktifis Muda Indonesia

Banyak yang mengatakan, menjelaskan dan meyakinkan bahwa menjadi aktifis sangat banyak manfaatnya bahkan semua dosen di fakultasku mulai dari dekan sampai ketua jurusan merekomendasikan untuk menjadi aktifis.

Setelah menjalani 3 tahun menjadi organisator yaitu tempat bernaungnya aktifis, terlalu banyak pendidikan yang diberikan dan hikmah yang didapat. Sebagianya telah tertulis pada artikel sebelumnya. Melalui tulisan ini, diri ini hanya ingin memberikan saran yang bermanfaat kepada pembaca sekalian, khususnya bagi adik-adikku yang sedang menempa dirinya di organisasi atau kepada mahasiswa baru yang sebentar lagi akan masuk ke dalam sarangnya akademisi.

Menjadi pribadi, mahasiswa atau aktifis hendaknya memiliki criteria berikut :

Pertama, Iman dan Taqwa. Imtaq ini lah yang menjadi identitas kita, warna kita dan kepribadian kita yang utuh. Pengalamanku sudah membuktikan bahwa semua orang menghargai keimanan yang kita pegang, pada saat di jepang, profku mengizinkan kami untuk permisi untuk shalat di mesjid sekitar kampus, bahkan ia menyediakan kepada kami sebuah tempat untuk masak dan berbuka puasa, karena pada saat itu ramadhan sedang menjelang. Sekarang juga, para peneliti di Academia Sinica juga respect terhadap ibadah yang kami lakukan. Mereka menyediakan tempat untuk shalat, kemarin tempat shalatku diganti ke pustaka karena mereka mengira pustaka lebih nyaman untuk shalat dibandingkan tempat yang lain. Tapi tadi aku meminta agar kami bisa shalat di lantai 6 karena tempatnya lebih nyaman karena di ujung dan mereka menyetujuinya serta memberitahukan kepada professor yang ada di lantai 6 bahwa kami akan shalat 2 kali di tempat tersebut.

Salah satu dosen favoritku di jurusan fisika pernah bercerita saat aku melapor bahwa kami akan ke Taiwan untuk magang. “sewaktu saya di itali, saya minta izin ke professor saya untuk shalat jum’at di roma, karena jarak roma ke kantor saya jauh, jadi saya sampaikan ke prof saya bahwa pada hari jum’at saya hanya bisa masuk kantor ½ hari, jika anda memerlukan saya maka saya akan masuk kantor pada hari sabtu” hanya itu yang disampaikan dosenku kepada profnya, dan profnya setuju, hasilnya sekarang dosen ku ditawarkan postdoc lagi ke perancis, sesuatu yang patut di tiru.

Memang kita harus membaur kepada siapapun, tetapi ingat membaur bukan berarti melebur, warna kita harus tetap jelas walaupun di kelilingi orang-orang dengan berbagai macam kepercayaan atau bahkan tidak memiliki sama sekali.

Kedua, English. Sesuatu yang sangat sering diucapkan oleh anak-anak kampus. Walaupun ada yang menyatakan bahasa arab lebih banyak manfaat. Memang betul, bahasa arab adalah ibunya segala bahasa. Tapi posisi kita sekarang dibawah kawan-kawan kita, dosen saya banyak yang berkata “we have to be educated people”. Negeri kita belum maju dalam hal ilmu pengetahuan apalagi science, tugas kita untuk membangunnya dengan menjembatani ketimpangan yang terjadi dan itu harus kita lakukan dengan meningkatkan potensi diri salah satunya kecakapan bahasa.

Bahasa juga menjadi alat untuk survive, di Negara dengan semua penduduknya menggunakan bahasa cina seperti Taiwan, sangat susah bertahan tanpa bahasa inggris. Mr. Marr pernah berpesan, jika aku tersesat maka bertanyalah kepada remaja yang ada, karena kebanyakan dari mereka bisa berbahasa inggris.

Ketiga, skills. Inilah yang menjadi modal kita agar dilirik oleh orang lain. Skill inilah yang akan kita kembangkan di negeri orang tapi tentunya kita telah memiliki kemampuan dasar. Ketua jurusanku menyebutkan skill ini adalah computer karena benda tersebutlah yang perkembanganya begitu pesat.

Kamis, 29 Juli 2010

My Pleasure

My pleasure, itulah kata yang selalu keluar dari mulut Mr.Marr setelah kami mengucapkan xie-xie atau thank you karena ia telah membantu kami disetiap kesulitan. Mr.Marr adalah bapak 1 anak dan istri yang sudah bekerja di Academia Sinica selama 8 tahun. Pria lulusan master di bidang information management ini sangat ramah dan tidak bosan menjawab pertanyaan kami seputar MRT atau city bus. Karena kecakapanya dalam English yang bagus, Mr.Marr menjadi orang pertama yang kami tanyakan jika ada sesuatu hal yang perlu ketahui.

Mr.Marr memiliki seorang bayi perempuan, jadi setiap hari ia meninipkannya dan setiap jam 7 sore ia kembali menjemput bayinya tersebut. Ia selalu pergi ke kantor menggunakan skuternya atau MRT, layaknya orang Taiwan kebanyakan, walaupun ia memiliki Toyota vios silver, katanya, ribet mengendarai mobil disini, terlalu banyak jalan dan kendaraan. Yaa.. memang penduduk Taiwan kaya-kaya. Kami saja sewaktu sampai di Bandara dijemput dengan Cammry, dalam perjalanan dari bandara ke penginapan serasa seperti pak rector kita.

Mr.Marr tinggal di sebuah komplek di apartemen di kunyang, ia menyebutnya hanya gedung karena apartemen untuk orang kaya dan lebih mewah, tapi mungkin itu bagi kita adalah apartemen yang sudah lumayan untuk menjadi tempat tinggal.

Hari ini kami telah menyelesaikan ½ dari tugas yang diberikan, tadi pagi Mr.Marr juga memperkenalkan kami dengan Prof hsiou yang menjadi pimpinan SahanaCamp yang akan kami lalui pada akhir pekan ini (minggu pertama yang sangat padat).